News :
Perhatian PT. EQUITY SEKURITAS INDONESIA Terdaftar dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) | Kami beritahukan bahwa telah dilakukan update pada Aplikasi online ESI-ON ke ver. 1.0.0.57 | Apabila terjadi Error pada aplikasi Online anda silahkan hubungi Admin Online Trading, dengan Ibu Fenny (021) 8063-2800 Ext. 804 |

Morning Note 17 Juni 2019

IHSG di perdagangan akhir pekan kemarin kembali trekoreksi dan untuk hari ketiga perdagangan secara beruntun. IHSG ditutup turun 22,82 poin atau melemah –0,36% setelah bergerak sideways dalam range 6.234,99 - 6.294,65. Sebanyak 229 saham ditutup melemah, 175 saham menguat dan 125 saham stagnan. Secara sektoral, sebanyak 8 sektor menekan pergerakan IHSG yang dipimpin oleh sektor Properti dan Aneka Industri yang masing-masing melemah –1,48% dan –0,93%. Melamhnya IHSG tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut yakni sentimen perang dagang AS-Tiongkok yang belum jelas penyelesaiannya, memanasnya kawasan Timur Tengah paska serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman , pelemahan mayoritas indeks di bursa regional dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, aksi profit taking juga masih menekan pergerakan IHSG.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin ditutup terkoreksi. Indeks Dow ditutup terkoreksi –0,07%, Indeks Nasdaq terkoreksi –0,52% dan Indeks S&P terkoreksi –0,16%.  Melemahnya indeks tersebut salah satunya dipengaruhi oleh sikap investor yang berhati-hati menjelang pertemuan The Fed AS pada pekan ini. Di sisi lain, adanya peringatan dari Broadcom tentang melemahnya permintaan global, membebani saham pembuat chip dan menambah kekhawatiran perdagangan AS-Tiongkok. Saham Broadcom Inc anjlok –5,6% setelah memangkas proyeksi pendapatannya setahun penuh sebesar US$ 2 miliar dan menyalahkan konflik perdagangan AS-Tiongkok dan pembatasan ekspor kepada Huawei Technologies. Saham-saham perusahaan chip lainnya, yang banyak menjual produknya ke Tiongkok ikut melemah dan mendorong indeks Philadelphia Semiconductor anjlok –2,6%. Para investor di bursa AS bersiap untuk menantikan pertemuan The Fed AS pada pekan ini, mengingat adanya eskpektasi pasar baru-baru ini, bahwa The Fed dapat memangkas suku bunganya sebanyak tiga kali pada tahun ini. Menambah tekanan pada pasar, datang dari data ekonomi Tiongkok dimana Industrial Production YoY periode Mei 2019 tercatat naik sebesar 5%, dibawah ekspektasi yang sebesar 5,5%. Data tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan industri Tiongkok terburuk dalam 17 tahun terakhir yang menunjukkan tanda-tanda melemahnya permitaan. Namun penurunan lebih dalam dari indeks dapat ditahan oleh rilis data ekonomi AS terbaru yakni Retail Sales MoM yang tercatat naik 0,5% yang menunjukkan kenaikan dalam belanja konsumen yang dapat meredakan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi yang tajam pada Q2-2019.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka melemah –0,10%. Melemahnya indeks Nikkei tersebut dipengaruhi oleh sikap investor yang menantikan pertemuan The Fed AS pada pekan ini dan mencermati perkembangan konflik dagang AS-Tiongkok.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan masih berpotensi rawan akan tekanan. IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak dalam range 6225/6220 - 6285/6320.

Cermati :
ADHI, WSKT, HMSP, UNVR, SMGR, PTBA

                     
BERITA EMITEN

KLBF : Penjualan perseroan selama Ramadhan dan Lebaran lalu meningkat sekitar 10%-20% dibandingkan dengan rata-rata penjualan bulanan. Kenaikan penjualan terjadi pada segmen produk makanan dan minuman kesehatan. Perolehan pada momentum tersebut diperkirakan bakal mengerek penjualan sepanjang semester I-2019 dengan harapan pendapatan dapat tumbuh sekitar 7%-8% pada semester I-2019.
Rekomendasi : Netral
 
PTPP : Menjadi kontraktor pembangunan smelter feronikel milik PT. Ceria Nugraha Indotama yang berlokasi di Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan total nilai investasi sebesar Rp. 18,5 triliun.
Rekomendasi : Netral
 
MGRO : Pembangunan pabrik refinery perseroan telah mencapai 80% dari perencanaan. Realisasi tersebut cenderung lebih lambat dibandingkan dengan target yang ditetapkan. Selain membangun pabrik refinery, perseroan juga membangun kernel crushing plant, dengan kapasitas 200 ton - 400 ton per hari. Alokasi belanja modal untuk ekspansi penghiliran tersebut mencapai Rp. 330 miliar.
Rekomendasi : Netral
 
URBN : Membukukan pendapatan sebesar Rp. 117,9 miliar pada Q1-2019, melonjak 195% dibanding Q1-2018 yang sebesar Rp. 39,9 miliar. Sementara laba bersih tercatat sebesar Rp. 30,1 miliar atau meningkat 81% secara tahunan.
Rekomendasi : Netral
 
SRIL : Membidik kenaikan penjualan berkisar 15% sepanjang tahun 2019. Pertumbuhan tersebut diharapka menopang peningkatan laba bersih perseroan sebesar 5%.
Rekomendasi : Netral
 
PBSA : Bakal membagikan dividen sebesar Rp. 13 per saham atau nilai total sebesar Rp. 19,5 miliar, setara dengan 46,09% dari total laba bersih tahun buku 2018. Perseroan berencana menambah fasilitas pabrikasi baja di Bekasi, Jawa Barat dengan kapasitas 5.000 – 6.000 ton. sejauh ini perseroan baru mengoperasikan fasilitas pabrikasi baja 1.500 ton. Demi memuluskan rencana, pada bulan mei lalu perseroan mendirikan PT Paramitra Andalan Struktur dimana target operasionalnya antara kuartal III atau kuartal IV nanti.
Rekomendasi : Netral
 
WTON – Hingga akhir mei 2019 perseroan telah mengantongi kontrak baru hingga Rp 2,1 triliun, dimana di dominasi oleh proyek infrastruktur disusul proyek pembangkit listrik dan energy. Sejalan dengan permintaan beton pracetak yang semakin meningkat, perseroan akan menambah kapasits produksi sebesar 400.000 ton. Dengan demikian, pada akhir tahun ini kapasitas produksi perseroan akan menjadi 4 juta ton per tahun.
Rekomendasi : Netral
 
ABMM : Perseroan menargetkan penurunan biaya operasional sebesar 15% pada tahun ini. efisiensi di lakukan demi menyehatkan keuangan akibat tren penurunan harga batubara sejak kurtal III tahun lalu. Meski ketat dalam menjaga pengeluaran, perseroan tetap menjaga target produksi. Hingga tutup semester I 2019, perseroan memerkirakan bisa memproduksi 6 juta ton batubara dari total target produksi 12,5 juta ton batubara tahun ini.
Rekomendasi : Netral

Morning Meeting

Morning Note 23 September 201923 Sep 2019 08:49

IHSG di perdagangan akhir pekan kemarin ditutup turun 13,00 poin atau melemah –0,21% setelah bergerak sideways dalam range 6.213,24 - 6.256,82. Secara sektoral, sebanyak tujuh [ ... ]

Read more...
Morning Note 20 September 201920 Sep 2019 09:00

IHSG di perdagangan kemarin ditutup turun 32,16 poin atau melemah –0,51% setelah bergerak sideways dalam range 6.242,89 - 6.282,06. Seluruh sektor yang diperdagangan ditutup [ ... ]

Read more...
Morning Note 17 September 201917 Sep 2019 08:56

IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun 115.41 poin atau melemah -1.82% setelah beregrak di zona merah sepanjang sesi perdagangan. IHSG secara intraday sempat menyentuh ke level [ ... ]

Read more...
Morning Note 16 September 201916 Sep 2019 09:02

IHSG di perdagangan akhir pekan kemarin masih melanjutkan pelemahannya. IHSG di tutup turun 7,33 poin atau melemah –0,12% setelah bergerak sideways dalam range 6.318,92 - 6.375,80. [ ... ]

Read more...
Morning Note 13 September 201913 Sep 2019 09:00

IHSG di perdagangan kemarin ditutup melemah dan mengakhiri reli selama enam hari perdagangan secara beruntun. IHSG ditutup turun 39,78 poin atau melemah –0,62% setelah bergerak [ ... ]

Read more...
  • Yuk Nabung Saham, Ayo Investasi di Reksa Dana
  • Yuk Nabung Saham
  • OJK
  • IDX
  • KPEI
  • KSEI
  • Akses-Ksei
  • SIPF